Benci Atas Mencinta
Menjauhkan
angan, menggetarkan jiwa. Melukis semarak hati, berdentang adanya. Bertahan
atas kebencian dalam sebuah debar cinta. Menuntut akan keharmonisan antara hati
dengan jiwa.
Jerman, 2020
Menghebuskan
nafas untuk menikmati keindahannya. Tersimpan kenangan baru dimulai detik ini. Menelusuri setiap
jejak-jejak penuh sejarah yang tersimpan di dalamnya. Memejamkan mata untuk
sementara, merasakan setiap tepi-tepi perasaan yang ingin kututup dengan sebuah
awal yang baru. Berdiri di tengah-tengah kebisingan kota tidak menyurutkan semangat
ku untuk melangkah menuju sebuah peradaban baruku.
Kutinggalkan
Berlin, untuk memulai kehidupan di Kota Halle (Salle), salah satu kota besar Jerman
bagian Sachsen Anhalt. Sekitar 2,2 jam perjalanan kutempuh dari Berlin
menggunakan kereta. Tepat pada hari ini kepindahanku beserta keluarga dari
Berlin ke Halle (Salle).
Derran
Mahardika adalah nama yang telah melekat dalam kehidupanku. Memiliki seorang
adik yang selalu mendukung setiap langkahku, membuatku melupakan masa lalu itu.
20 tahun sudah kuhirup udara didunia ini,
yang artinya 5 tahun sudah menetap di Negara Jerman.
“Manche
Menschen träumen vom Erfolg. Andere sind wach und arbeiten hart daran.” Pepatah Jerman yang mengatakan bahwa beberapa
orang hanya memimpikan keberhasilan, tapi beberapa yang lain terbangun dan bekerja keras untuk
meraih keberhasilan tersebut. Pepatah tersebut yang selalu membuatku untuk
terus hidup maju dan membangunkan mimpi-mimpi yang telah hilang. Terus maju,
hingga aku melupakan jejak masa lalu. Masa lalu yang membuatku membencinya.
“
Mas Derran, masih dikirimi pesan itu?” Sahut adikku dengan menurunkan barangnya
ke persinggahan baru kita. “ Masih adek” jawabku. “ Gimana mas, jadi kesana?”
tanya adikku. “ Entahlah dek, tolong jangan bilang Bunda sama Ayah ya.”
Semenjak
2 tahun terakhir, Email ku memang dipenuhi dengan pesan dari seseorang yang
bahkan aku tak ingin mengingatnya. Selalu mengajakku untuk kembali untuk
memeluk luka itu.
*Ting*
Nada
pemberitahuan email masuk ke dalam ponsel ku. “ Pagi Derran, keadaan disini
masih sama sepeti dulu. Sepi tanpa kehadiranmu. Tanah Indonesia menunggu atas
kehadiranmu. Bantu aku Derram. Bantu aku untuk membuat semuanya membaik. Tolong
Temui aku di Jalan Pahlawan VII/ 14A, Surabaya, Indonesia. – Naysa.” Isi pesan
yang masuk kedalam Emailku. Semua kenangan itu tiba-tiba kembali menyeruak memenuhi benakku. Kenangan yang seharusnya ku
kubur dalam-dalam serta kubuang sejauh-jauhnya. Melupakan atas kiriman pesan
email sejenak, aku menuju luar rumah untuk melihat pemandangan yang baru dari
rumah yg saat ini kutinggali dengan keluargaku.
Esok
hari dengan penuh semangat hati, melangkah kan jiwa untuk menuju kantor yang tepatnya berada di kota Leipzig.Dengan menaiki
kereta yang harus kutempuh 23 menit dari rumah. Sejak 3 tahun lalu aku telah
bekerja dalam sebuah majalah Traveller . Sesampainya disana, suasana
kantor tak secerah biasanya. “ Wie ist der zustand des B
ros, Nathan? Tanyaku mengenai keadaan kantor ke Sahabat karibku. Aku
mengenal Nathan sejak masuk di bangku perkuliahan. “ Kacau Ran, semua orang di
kantor pada bingung, seharusnya besok jadwal keberangkatan ku dan Zayn untuk
riset di Indonesia, tapi sekarang Zayn tiba-tiba masuk rumah sakit. Semua orang
di kantor tidak bisa menggantikan Zayn, karena tidak ada yang bisa berbahasa
inggris, kecuali kau dan Zayn.” Cerita Nathan sembari membuat kopi.
“
Hallo Derran, wie geht es ihnen? Kamu bisa kan menggantikan Zayn
untuk berangkat ke Indonesia besok, sudah tidak ada pilihan lagi.” Sahut Pak
Jay, atasanku dari kejauhan yang sambil menanyakan kabarku.
Nama
negara itu disebut. Indonesia membuatku membenci nya, dengan seluruh pergolakan
batin, aku sama sekali tidak ingin menginjakkan kaki ke negara itu untuk kedua
kalinya. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan, jika aku menolak semua akan
bertanya penasaran, mengapa aku membencinya. “ Gut, danke kalau memang saya yang
hanya bisa menggantikan zayn tidak masalah pak.” Jawabku dengan mengingat
Indonesia negara yang memberikanku sebuah kenangan pahit masa lalu. “ Good,
kamu sekarang pulang saja Ran, karena esok harus berangkat dengan Nathan dan
untuk permasalahan visa, nanti saya yang atur. Karena saya memiliki teman yang
dapat diandalkan.” Sambung Pak Jay. “ Iya pak” jawabku dan detik itu juga
kakiku melangkah ke luar kantor untuk menuju stasiun dan pulang demi
mempersiapkan keberangkatanku esok.
Sesampainya
di rumah aku bergegas mempersiapkan segala urusan untuk ke Indonesia, namun
sengaja untuk tidak mengabari kedua orang tua ku serta adikku bahwa aku akan ke
negara tersebut. Karena kejadian 2 tahun yang lalu keluargaku mengalami
pertengkaran yang hebat karena ada seseorang yang mengungkit nama Indonesia. Serta
diriku yang ingin mengubur dalam-dalam kenangan pahit itu.
Esok
hari, Pak Jay menemuiku di bandara Berlin untuk memberikanku visa, yang aku pun
tidak tahu bagaimana bisa visa diurus hanya dalam H-1 keberangkatan. Saat ini Nathan
sedang melihat keindahan jerman diatas awan dan perpaduan indahnya biru langit
dengan melihat ke arah jendela, sedangkan aku memilih untuk tidur.
Sekitar
27 jam waktuku dihabiskan di dalam pesawat, dan kini telah sampai di tanah
Indonesia tepatnya di Kota Surabaya. “ Sepertinya itu yang menjemput kita Ran,
kesana yuk.” Seru Nathan sambil berlari ke tempat dimana seseorang yang
menjemput kami. Akhirnya Nathan beserta diriku masuk ke dalam mobil untuk
mengelilingi Kota Surabaya sejenak sebelum memasuki hotel.
Indonesia,
negara yang telah diberi nama sebagai Negara Kepulauan. Dimana disana terdapat
lebih dari 17.500 pulau. Terkenal akan kehadiran rempah-rempahnya yang tidak
tersedia di negara manapun. Memiliki lebih dari 1300 suku bangsa yang berbeda
serta 540 lebih bahasa yang berbeda pula. Penduduk nya ramah, bahkan saling
menghormati. Kejadian 5 tahun lalu membuatku menjadi trauma dengan kata
Indonesia.
Nada
pemberitahuan email masuk membuyarkan segala lamunanku. “ Derran, aku paham
sangat salah terhadapmu. Aku minta maaf. Tolong berikan kesempatan kepada
diriku untuk memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin kamu tidak membenciku dan
Indonesia. Tolong pulang-lah ke Indonesia Derran.” Begitulah isi pesan yang
telah kubuka. Masih ingat dengan jelas
sosok yang membuatku mecintainya sekaligus membencinya.
Rindu
sebenarnya dengan kota ini. Kota Surabaya yang disebut dengan kota pahlawan. 20
tahun yang lalu, ketika diriku lahir Kota Surabaya lah yang menjadi saksinya.
Rindu akan suasana kemacetannya serta rindu akan makanan khasnya yang dinamakan
rujak cingur. Deretan penjual kaki lima yang tidak terbatas akan jumlahnya. Bahasa
Suroboyoan yang masih kusimpan rapat-rapat tanpa kugunakan lagi. Memang
tidak ada habisnya jika bernostalgia.
Sesampainya
di hotel aku bersama Nathan mulai menyusun rencana besok untuk melakukan riset
terhadap Indonesia tepatnya di Kota Surabaya yang nantinya akan dimunculkan
dalam majalah traveller. “Udah ya Ran kita diskusinya, aku capek mau
tidur dulu.” Sahut Nathan ketika ditengah-tengah penyusunan rencana. “ Iya
tidur aja sisanya biar aku yang ngurus.” timbalku.
Esoknya
aku mempersiapkan diri untuk menemui dia yang memenuhi pesan emailku. Aku ingin mengatakan untuk
berhenti mengirimi hal yang bodoh seperti itu. Biarlah pertemuanku menjadi
skenario tempat-tempat yang sengaja akan kukunjungi nantinya.
“
Wah beda banget ya sama Jerman, disini lebih padat. Kendaraannya memenuhi
banget ya Ran. Ini nanti kamu yang bagian menjelaskan aja, aku yang bagian
mencari posisi yang bagus buat fotonya.” Komentar Nathan ketika mulai kuajak
menyusuri Kota Surabaya yang merupakan tempat tinggalku 5 tahun yang lalu. “
Lebih fokus ke makanan daerah nya saja Nat, soalnya ini juga tidak ada di
Jerman.” Jawabku. Aku terus memikirkan cara untuk kabur dari Nathan dan mulai
menuju alamat yang telah dia berikan di email.
Memang
keberuntungan berpihak padaku, setelah 4 jam lamanya menyusuri Kota Surabaya
Nathan mengaku lelah dan ingin beristirahat kembali ke hotel. Sehingga dia
bergegas ke hotel sedangkan aku tidak
mengikutinya melainkan segera meluncur ke tempat alamat rumah itu.
Tak
menunggu lama, aku langsung menaiki ojek online yang sebelumnya telah ku pesan
di aplikasinya sesaat setelah aku melakukan riset di Internet, bahwa Indonesia
saat ini sudah lebih maju daripada 5 tahun
yang lalu, dimana dibuktikkan semakin canggih teknologinya untuk
membantu masyarakat Indonesia.
Telah
sampai, pemandangan yang nampak adalah rumah kumuh, terasa tak terawat dan
kusam. Terkesan menakutkan, takut tiba-tiba aku berada pada alamat yang salah.
“ Derran?, bener Derran kan? Derran aku masih ga percaya kamu kesini.” Seru
Naysa di belakangku, sosok perempuan yang membuatku teringat seketika kejadian 6
tahun yang lalu.
Indonesia, 2014
“
Pak Gunawan dinyatakan bersalah dalam tindakan korupsi mengenai pembangunan
rumah sakit. Dihukum pidana selama 1 tahun dengan masa percobaan 3 bulan.” Perkataan hakim telah membuatku seperti
ditimpa runtuhan bumi.
Ayah
dinyatakan bersalah atas perbuatan yang tidak sama sekali dilakukannnya. Semua
ini perbuatan yang dilakukan oleh musuh Ayah yang ingin melihat Ayah hancur. Ia
ingin menjebak ayah melalui Papa Naysa yang bisnis obat-obatan yang dijalaninya
mengalami keterpurukan. Disaat ayah dijebak, Papa Naysa akan mendapatkan komisi
yang mencukupi untuk memulai bisnis baru.
Hubunganku
dengan Naysa adalah sahabat kecil yang selalu bersama dalam keadaan apapun. Aku
menaruh harapan lebih padanya. Aku berencana akan menikahinya. Namun impian itu
runtuh seketika karena hal tersebut..
Semenjak
kejadian itu, aku menjadi anti dengan pemerintah Indonesia, yang belum dengan
benar menjalankan hukum dengan semestinya. Bahkan di dalam hukum pun masih ada
banyak permainan-permainan uang dimana korban malah dirugikan dan cenderung
mendukung tersangka utamanya untuk keluar.
1
tahun tanpa ayah, aku dan sekeluarga pindah tanpa menghubungi keluarga ku yang
lain. Setelah ayah keluar dari jeruji
besi, seorang temannya ayah menghubungi ayah untuk pindah ke Jerman dan akan
diakui oleh pemerintah disana, dikarenakan kinerjanya ayah sangat bagus selama
bekerja, setelah itu kami sekeluarga
pindah ke Jerman pada tahun 2015”
Indonesia
2020
“Maaf
Derran, aku bener-bener minta maaf mewakili Papaku yang telah menjebak Ayahmu. Sungguh
keadaan kami yang menuntut kami melakukan tersebut. Aku tau aku memang patut
dibenci. Namun aku berkali-kali mengirimimu email untuk memaafkan aku dan Papa
ku serta berdamailah dengan Negara Indonesia.” Ujarnya sambil menitikkan air
mata.
“
Aku sudah memaafkan mu Naysa, tapi maaf aku belum bisa untuk menerima Negara
Indonesia sebagai negara yang pernah aku tinggali. Terlanjur kecewa dengan
permainan hukum di Indonesia, yang ternyata bisa dibeli dengan mudah oleh uang.
Terimasih telah mengajarkanku bertahan atas mencinta dalam sebuah kebencian.“
Sahutku.
Aku
langsung lari meninggalkannya, perasaan rindu itu masih belum puas untuk
kusampaikan Namun akan mustahil aku bersama dengannya, aku tidak ingin kembali
ke negara ini. Kuanggap masalah ini telah selesai karena memang aku telah
memaafkan dirinya, dan berakhir pula atas perasaan yang telah ada pada diriku
padanya.
Perjalanan
kembali ke hotel membuatku sejenak untuk berfikir, bagaimana menghilangkan
perasaan benci yang ada terhadap negeri ini. Telah sadar aku sangat-sangat
mencintai negeri ini, namun terlalu sakit untuk melihat fakta bahwa keluargaku
terjebak oleh perbuatan pemerintah negeri ini.
Brukk!!
Tanpa sadar aku telah menabrak seorang kakek tua yang menjual jajanan pasar dan
semuanya jatuh ke tanah. “ Astaughfirullah, maaf kan saya kek, saya tadi tidak
melihat dengan benar.” Kataku sambil melihat uang di dompet berniat untuk
mengganti rugi. Namun tidak ada uang sepeserpun yang ada, uang terakhir telah
kugunakan untuk menaiki ojek online. “ Tidak apa-apa nak, lain kali kalau jalan
hati-hati ya, ini bisa berbahaya untukmu.” Jawab sang kakek sambil membereskan
dagangannya yang tidak bisa dijual lagi dan aku hanya bisa membantu membereskan
tanpa mengganti rugi. Kakek itu pun pergi tanpa ada rasa marah terhadapku.
Pergolakan
batin mengahampiriku. Selama ini aku salah. Salah terhadap menilai Indonesia
yang hanya kulihat dari 1 sisi. Ada banyak sisi yang tak terlihat dari Negara
Indonesia yang bahkan jauh sekali dengan negeri lain. Rasa toleransi yang
tinggi dan kesatuan yang kental telah ada di diri bangsa Indonesia. Peduli akan
lingkungan tetangga yang sangat harmonis. Menyesal diriku yang telah membenci
negara ini selama 5 tahun lamanya.
Sesampainya
di hotel, aku segera menyusun materi yang akan di letakkan di dalam majalah,
yang tidak hanya akan melukiskan betapa
indahnya persaudaraan di Indonesia, namun rasa toleransi yang kuat. Hari ini
adalah dimana hari aku bejanji akan menghapus semua kebencian yang ada terhadap
negara ini.
Kembalinya
ke Jerman, membuatku harus menyadari bahwa sebenarnya diriku merupakan bagian
dari Indonesia. Dengan majalah ini, satu tekad yang ada pada diriku adalah akan
mengubah pandangan orang Jerman akan melihat Indonesia sebagai negara yang
cinta akan kedamaian dan menjadi daya tarik tersendiri untuk bekunjung kesana.
Negeri
ku maaf aku tak dapat membantumu disana, tapi aku membantumu mengharumkan
namamu disini. Tekad dan tujuanku hanyalah satu, bahwa jiwaku tetaplah jiwa
Indonesia. Terimakasih Indonesia telah mengajarkanku atas seberapapun
membencimu, akan tetap ada terselip fakta
bahwa aku masih dan sangat mencintaimu.
“Jerman kau boleh mengambilku dari Indonesia tapi kau tidak akan bisa
mengambil Indonesia dariku.”

No comments:
Post a Comment